By Semesta Ilmu on 19.32
PERNIKAHAN adalah proses IJAB - QOBUL antara ayah calon isteri atau walinya kepada calon suami dengan mas kawin yang telah ditentukan dengan disaksiakan oleh para saksi. Dalam Al-Quran perjanjian ijab – qobul tersebut seperti perjanjian Allah ta’ala dengan Rasul-Nya yang disebut MITSAQON GHOLIZHO (Perjanjian yang berat) dan ‘arsy Allah bergetar karenanya.
Setelah proses IJAB - QOBUL tersebut, beralihlah tanggung jawab orang tua kepada suami. Pemenuhan kebutuhan lahir-batin, pembinaan dan perlindungan beralih kepada suami. Dengan kata lain ….Suami Anda adalah wakil orang tua Anda. Sehingga ketaatan Anda kepada suami (dalam hal tidak bermaksiat kepada Allah) adalah seperti ketaatan kepada orang tua Anda.
Dan kedurhakaan Anda kepada suami (dalam hal tidak bermaksiat) adalah seperti kedurhakaan kepada orang tua Anda. Dan ridlo Allah sudah tergantung kepada ridlo suami Anda.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman (artinya) :
" Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian
dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari
jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Hadits-hadits yang berkaitan dengan ini adalah sebagai berikut :
Ibnu
Jarir dan al-Baihaqi meriwayatkan ha-dits dari Abu Hurairah yang menyatakan
bahwa Nabi Saw bersabda :
“Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hati-mu bila engkau pandang, taat manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu serta memelihara kehormatan diri-nya ketika engkau tidak ada di rumah.” Kemudian Rasulullah Saw. membaca ayat tersebut di atas. (Qs. An Nisaa’ 4: 34).
Dari
Abu Umamah ra, dari Nabi Saw beliau ber-sabda: “Tidak ada yang paling
bermanfaat bagi se-orang (lelaki) Mukmin se-su-dah bertaqwa kepada Allah
daripada memiliki isteri yang shalihah, yaitu jika ia di-perintah ia taat, jika
ia dipan-dang menye-nangkan hati, dan jika ia digilir ia tetap ber-buat baik,
dan jika ia diting-galkan (suaminya) ia tetap menjaga suaminya dalam hal dirinya
dan harta suaminya.” (HR Ibnu Majah)
“
Siapapun wanita yang meninggal dan suaminya ridho kepadanya , maka dia akan
masuk surga " ( Ibnu Majah , Ath Tirmidzy , HR.
Muttafaqun “Alaihi )
Al-Hushain bin Mihshan rahimahullahu menceritakan bahwa bibinya
pernah datang ke tempat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu
keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah bersuami ?”
Bibi Al-Hushain menjawab : “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap
suamimu?” tanya Rasulullah lagi. Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi
haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu,
karena SUAMIMU ADALAH SURGA DAN NERAKAMU.” (HR. Ahmad 4/341 dan
selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Seandainya
aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku
perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya."
"Dan
tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Subhanahu wa Ta’ala
terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya. Sampai-sampai jika
suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas
pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh
menolak).”
(HR. Ahmad 4/381. Dishahihkan sanadnya olehAsy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366)
(HR. Ahmad 4/381. Dishahihkan sanadnya olehAsy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366)
“Jika seorang
suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang
maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 3524)
Dalam riwayat Muslim (no. 3525) disebutkan dengan lafadz : “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.”
Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat
yang panjang, beliau melihat Surga dan neraka. Ketika ...beliau melihat neraka
beliau bersabda kepada para shahabatnya:
“ … Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.”
Para shahabat pun bertanya : “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?”
“ … Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.”
Para shahabat pun bertanya : “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?”
Beliau menjawab : “Karena kekufuran mereka.”
Kemudian mereka bertanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada
Allah?”
Beliau menjawab : “Mereka kufur (durhaka)
terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya.
Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu
yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai)
niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada
dirimu.”
(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)
Semoga bisa mengambil HIKMAH-nya
Wallahu a'alam bi shawab
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar